BerandaBerita DaerahUmmika Pringsewu, Di Balik Aroma Seafood, Ternyata Bau Busuk Perbudakan Modern

Ummika Pringsewu, Di Balik Aroma Seafood, Ternyata Bau Busuk Perbudakan Modern

PRINGSEWU – Di media sosial, Ummika Caffe & Resto tampil bak cerita dongeng motivasi, kisah pemiliknya yang katanya hanya bermodal Rp300 ribu, menjual HP demi mimpi, dan rela puasa demi beli bahan baku.

Judul-judul berita mengalir manis seperti sirup murahan: “Owner Hebat Bangun Bisnis dari Nol” padahal kalau dicium lebih dalam, ada aroma amis yang tak berasal dari seafood, tapi dari hati nurani yang membusuk.

Ya, di balik segala pencitraan tentang “menu khas” dan “pemberdayaan pemuda lokal”, tersimpan realita getir yang diludahi dari mulut-mulut para eks karyawan. Alih-alih jadi berkat, tempat ini justru menjadi simbol kutukan kapitalisme lokal yang berbaju UMKM.

AF, seorang sepupu dari eks karyawan, membongkar kebusukan itu. Keponakannya – yatim piatu pula katanya kerja dua bulan tanpa gaji. Tak cukup itu, ia dihina, dimaki, dan dilabeli “goblok” oleh sang pemilik yang kini sibuk ber-selfie ria di balik neon sign “Ummika”.

“Ponakanku kerja halal, malah dihina dan gak digaji. Manusia apa tuyul tuh owner?” sembur AF, geram.

NK, eks karyawan lainnya, membeberkan fakta yang lebih mirip skenario film horor. Mereka bukan hanya tak digaji, tapi juga dituduh maling, diminta ganti rugi, bahkan KTP-nya disandera. Iya, KTP! Di negara hukum, masih ada restoran yang menyita identitas warganya sendiri seperti rezim otoriter. Hebat bukan?

“Kami diancam mau dijadikan DPO polisi. Apa ini resto atau markas preman?” tulis NK penuh kekesalan.

Postingan tentang perlakuan kejam itu viral di Grup Facebook Pringsewu Community. Judulnya saja sudah menusuk: “Tak Manusiawi, Owner Ummika Perlakukan Karyawan Bak Babu”. Komentarnya meledak, isinya bukan pujian, tapi kesaksian luka dari dapur eksploitasi.

Vina Gizela menulis, “Tetangga saya kerja sebulan penuh puasa, digaji cuma Rp100 ribu.” Ini restoran atau ladang derita?

Sementara Dita Septi menyaksikan langsung bagaimana karyawan yang salah kasih menu diteriaki dan dihina di depan pelanggan. Trauma? Jelas. Tapi siapa yang peduli, kalau narasi pencitraan lebih menggiurkan klik dan likes?

Begitulah wajah sebagian pelaku usaha zaman now: berkoar tentang “pemberdayaan” sambil menindas, bicara “berkah” sambil mencuri hak orang.

Media ikut menggembor-gemborkan cerita sukses, tanpa peduli bahwa di belakangnya ada karyawan yang pulang dengan mata sembab dan perut kosong.

Jadi kalau Anda ke Ummika dan melihat senyum ramah para pelayan ingatlah, bisa jadi itu bukan senyum, tapi topeng dari luka yang mereka simpan.(Red)

Baca Juga
- Advertisment -spot_img

Berita Populer

Recent Comments